free webpage hit counter

Boni Akbar: Jadi Pemimpin Itu Menderita, Bukan Menumpuk Harta

 (Dari Kiri) Boni Akbar bersama Brigjend Pol Siswandi, Direktur Penindakan Narkoba di Bareskrim Mabes Polri, disalah satu kesempatan.
(Dari Kiri) Boni Akbar bersama Brigjend Pol Siswandi, Direktur Penindakan Narkoba di Bareskrim Mabes Polri, disalah satu kesempatan.

JN, Sei.Geringging –  Benarlah apa yang disampaikan oleh Anies Baswedan beberapa kesempatan yang lalu, bahwa Pemimpin dan Pemimpi itu bedanya hanya pada huruf ‘N’. Artinya seorang pemimpin itu, ia bermimpi yang terbaik untuk negeri ini dan dengan kekuatan mimpinya itu pula, kemudian ia menggerakkan orang – orang kuat dan berpotensi untuk menjalankan apa yang ia mimpikan tersebut.

 

Sekilas apa yang disampaikan oleh Anies Baswedan, mungkin masih sulit untuk dicerna. Namun, menurut Boni Akbar, sang Aktivis asal Piaman Laweh, yang berasal dari Sungai Geringging Kabupaten Padang Pariaman itu, mengkonkritkan bahwa pemimpin adalah orang pertama yang siap menderita untuk kepentingan pihak – pihak yang ia pimpin.

 

“Mari kita lihat masa dimana Rasulullah sebagai panutan kita Ummat Muslim. Dengan jelas, banyak riwayat yang mengisahkan lewat hadist – hadist yang disampaikan oleh para sahabat, pengorbanan dan penderitaan Muhammad SAW, saat menjadi pemimpin maupun menjadi seorang Rasul,” ungkap Boni.

 

Namun lanjut Boni, bukan hanya Rasulullah saja, para sahabatnya pun tidak ubahnya dengan beliau. Contohnya Umar Bin Khatab, ia dengan tegas tidak memakai fasilitas negaranya yang ia pimpin untuk kepentingan pribadi maupun keluarganya, pada saat itu ia diamanahkan sebagai khalifah.

 

Sehingga, melihat kondisi saat ini, Boni merasa sangat miris. Dimana, banyak pemimpin, hanya menjadikan jabatannya sebagai target pemuas nafsuh dan moment pengumpulan harta pribadinya saja. Silahkan lihat dimana pun saat ini, apakah itu pemimpin di kabupaten, kota maupun tingkat provinsi serta pusat.

 

“Bukan hanya pejabat ekskutif dan legislative, pemimpin organisasi saja, tidak ubah para para lintah darat, yang menjadikan organisasi sebagai pengisap harta dan kekuasaan untuk kepentingan pribadinya. Sementara, untuk memikirkan organisasi agar lebih baik dan besar, mungkin ia akan menghitung waktunya dengan sangat cermat. Kapan bangsa ini akan besar, jangankan jadi pemimpin yang jelas di eksekutif dan legislatif, menjadi pemimpin di organisasi saja banyak yang menyeleweng,” tandas Boni lagi.

 

Maka, Boni akhirnya berkesimpulan, bahwa tidak salah Anas Malik sebagai Bupati pada masa ia memimpin, hal pertama yang ia lakukan adalah memperbaiki mental dan karakter masyarakat Kabupaten Padang Pariaman. Sehingga, walau dengan anggaran yang terbatas, pada saat itu Padang Pariaman menjadi barometer pembangunan SDM dan daerah di Sumatera Barat.

 

“Jelas sudah, kesimpulan akhir dari masalah bangsa kita adalah karakter dan mental pemimpin di negeri ini. Semoga pemuda, sebagai generasi bangsa Indonesia yang kita cintai, bisa lebih baik dari pemimpin – pemimpin yang ada saat ini,” pungkas Boni mengakhiri. (018)

sumber : www.skrcyber.com

Dibaca 836 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dog