Dibalik Suksesnya Sawahlunto Dengan Event dan Penghargaannya, Seorang Petani dan Balitanya Merintih Menanggung Sakit

Masri (35 Tahun)
Masri (35 Tahun)

JN, Sawahlunto – Siapapun yang melihat kondisi balita yang satu ini, tentu akan bergumam lirih, kemudian meneteskan air mata. Balita dengan kondisi penyakit yang cukup memilukan itu, hanya bisa menahan rasa sakitnya tanpa bisa berucap sepatah kata pun, ia hanya menangis, kemudian sang ayah yang selalu menggendong berusaha membuai agar ia bisa diam sejenak dan bisa tertidur, agar tidak merasakan sakitnya lagi untuk sementara waktu.

Kondisi Aufar Maulana (2 Tahun), balita malang itu, menurut pengakuan sang ayah, Masri (35 Tahun) terjadi sehari setelah ia dilahirkan, hingga kini masih belum ada perkembangan dan terlihat malah makin parah.

“Kata dokter nama penyakitnya Bulosa. Sehari setelah ia dilahirkan, tiba – tiba datang gejalanya. Kulitnya melepuh dan ia merasakan sakit yang amat sangat,” ungkap Masri, seorang petani yang tinggal di Taratak Bancah Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto itu. Jika dilihat dari pengertian medisnya, penyakit kuliat jenis Impetigo bulosa ditandai dengan-

Kondisi Aufar Maulana (2 Tahun) yang terkena Penyakit Bulosa
Kondisi Aufar Maulana (2 Tahun) yang terkena Penyakit Bulosa

kulit yang melepuh dan berisi cairan. Ketika redaksi Jurnal.news memperhatikan langsung kondisi Aufar, sekujur tubuhnya memang melepuh, memerah dan mengeluarkan cairan. Terkadang ia menangis, meringis kesakitan, kemudian diam sejenak, menangis lagi dan begitu seterusnya yang terjadi terhadap Aufar.

Disamping kepahitan hidup Masri dan keluarganya yang menuai nasib dengan hidup bertani, sekarang Masri harus menanggung beban yang terbilang cukup berat bagi diri dan keluarganya.

“Sekali dalam 15 hari saya harus periksa Aufar. Biayanya memang mendapat tanggungan 50% dari BPJS, tapi tetap membayar sebanyak Rp. 75,000 setiap periksa, itu kalau berobat di RSUD Kota Sawahlunto. Kalau dalam keadaan mendesak dan parah, saya bawa Aufar berobat ke Solok misalnya, itu bisa mencapai Rp. 300 ribu Pak. Sungguh berat bagi saya, dengan hanya berpenghasilan dari tani,” ungkap Masri.

Menurut pengakuan Masri, sampai saat ini belum ada perhatian yang serius dari Pemerintah Daerah Kota Sawahlunto dengan penyakit anaknya itu.“Kami sekeluarga, berharap Pemerintah Kota Sawahlunto, bisa memperhatikan kami. Semoga anak saya bisa sembuh Pak,” imbuhnya dengan nada sedih.

12746210_551698814997492_1562041841_n
Penyakit Kulit Jenis Impetigo Bulosa Ditandai dengan kulit yang Melepuh dan Berisi Cairan

Sementara, dibalik kesulitan Masri dan anaknya, Kota Sawahlunto akhir – akhir ini memang digadang –gadang sering mengadakan event – event besar yang cukup bergengsi dan menyabet banyak penghargaan tingkat nasional. Tak tangung – tanggung, para artis ibu kota dari Jakarta pun bisa berulang kali datang ke Kota Sawahlunto.

Tetapi, masalah masyarakat kecil, salah satunya yang dialami Aufar, agak terkesan terlupakan. Selain kondisi kesehatan, kondisi ekonomi di Kota Sawahlunto juga terbilang menurun, hal itu bisa dilihat dari kondisi pasar sehari- harinya terutama pasar Rabu dan Sabtu di Pusat Kota Sawahlunto saja yang cukup besar, sepi dari pembeli. Artinya secara ekonomi, daya beli masyarakat melemah, tentu akan berimbas pada pedagang dan masyarakat Sawahlunto umumnya.

Hal ini juga sempat dikomentari oleh salah seorang tokoh masyarakat Kota Sawahlunto, yang tidak mau disebutkan namanya itu, “Saya bingung dengan pemerintahan sekarang ini Pak. Agak kurang mengerti saya arah pembangunannya kemana, kalau disebut pariwisata, mudah saja mari kita lihat kondisi Kebun Binatang Kandis dan Waterboom apalagi Bioskop 4 dimensi yang nyaris tidak ada penontonya jika dihitung secara profit bisnisnya,” ungkapnya.

Masri dan Keluarganya yang Menuai Nasib dengan Hidup Bertani
Masri dan Keluarganya yang Menuai Nasib dengan Hidup Bertani

“Terus, kalau dengan event – event yang berbiaya besar itu, apakah multi efeknya benar – benar memiliki pengaruh untuk roda perekonomian Kota Sawahlunto? Saya ragu dengan itu. Kemudian, masalah kesehatan, wajar saja kurang menjadi perhatian, mungkin dengan olahraga saja masyarakat bisa sehat, olahraga yang berlebihan itu juga tidak baik pak,” celetuknya. (jurnaltim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *