Esensi Melayani

Jember, JNTangan di atas lebih utama daripada tangan dibawah, Memang tidak mudah menjadi tangan di atas. Pun, kalaulah memilih tangan di bawah, dengan pemikiran sangat bijak tentu lebih susah ketimbang menjadi pilihan pertama.

Setidaknya, begitulah subtansi pesan Nabi Muhammad SAW, memberi lebih mulia daripada menerima, yang bisa diluaskan memiliki pengertian melayani lebih mulia daripada dilayani.

Walaupun secara umum hakikat kehidupan ini sama. Terkadang berada di atas, dan bahkan tidak sebentar berada di bawah. Akan tetapi, layaknya matahari, terbit dan tenggelam hingga melahirkan hari yang beranjak bulan dan menua menjadi tahun, matahari tetap setia bersinar hingga saat ini.

Siapa pemimpin dan siapa yang dipimpin? Pemetaan sebutan itu, tak ubahnya dengan menggelintirnya matahari, tidaklah kekal. Bisa saja hari ini memimpin dan tidak menampik besar kemungkinan, beberapa detik kemudian dipimpin.

Kendati demikian, menjadi pemimpin dan dipimpin memiliki batas waktu yang subtansi keduanya tentu tidak lekang dimakan waktu. Kata melayani, tentu memiliki dua arah pengertian, yakni; pemimpin melayani rakyat, dan rakyat melayani pemimpin.

Setidaknya, yang idealnya adalah pemimpin yang bersedia dan ikhlas melayani rakyat yang ia pimpin dengan memberikan kepemimpinan yang terbaik, setidaknya sebutannya adalah pemimpin yang merakyat. Dan rakyat yang bersedia melayani pemimpin, yakni menjadi rakyat yang baik, mengikuti aturan dan ikut dengan kebaikan pimpinan dari pemimpinnya tersebut.

Inilah sinergitas yang harus terjadi di negeri ini. Tidak ada tuan dan hamba. Yang ada hanya sebutan belaka yang sewaktu-waktu dengan mudah meninggalkan. Begitupun dengan melayani. Kalau mau berpikir, siapakah di dunia ini yang terus dilayani dan melayani? Toh, bisa saja di tempat ini kita dilayani, sedangkan di tempat sana, justru berbalik melayani.

Sebagaimana beberapa kutipan pesan Rasulullah SAW; sejatinya manusia yang mampu melayani manusia, sama halnya dengan melayani Tuhannya. Memberi makan manusia, bisa diibaratkan memberikan makan Tuhannya.

Lantas, jika demkian adanya, bukankah suatu pekerjaan mulia ketika bisa memberikan pelayanan kepada manusia lainnya? Bukankah jika melayani manusia, Tuhan akan melayani kita? Aih…alangkah beruntungnya manusia yang mendapat kehormatan dilayani oleh Sang Penciptanya.

Begitupun dengan tugas kepolisan dalam melayani dan mengayomi masyarakat untuk menciptakan ketertiban dan keamanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentu akan lebih mulia jika melandasi tugas tersebut seperti melayani Tuhannya. Toh, jika hal itu sudah digenggam dan dipatri dalam sanubari, rasanya meskipun menjadi pelayan Tuhan, bukankah suatu kehormatan tersendiri?

Begitulah kira-kira esensi melayani. Menjadi tangan di atas. Duduk sama rendah, berdiri – pun sama tinggi, serta memeluk dengan penuh kasih untuk mencapai ketertiban dan ketentraman dalam menggapai kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kami rasa, senyuman merupakan senjata paling ampuh untuk melumpuhkan musuh, dalam melayani,” ungkap AKBP Sabilul Alif, Kapolres Jember, mengakhiri tulisannya, sebagaimana yang dipublish pada halaman media social facebooknya Polisi Jember Menulis. ***

AKBP Sabilul Alif, Kapolres Jember, ikut dalam sebuah kegiatan dilapangan bersama anggota melayani pengendara.
AKBP Sabilul Alif, Kapolres Jember, ikut dalam sebuah kegiatan dilapangan bersama anggota melayani pengendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *