free webpage hit counter

Gemuruh Rakyat, Tolak Kebangkitan PKI di Monas

Jakarta, JN –  Kabar adanya kebangkitan PKI telah membuat sebagian besar Ormas (baca; Organisasi Masyarakat) di Indonesia mulai bereaksi dan menyatakan sikap menolak. Informasi kebangkitan organisasi dan partai yang berbau komunis sudah menjejalar hingga pelosok penjuru.

Sebuah simposium untuk menolak kebangkitan PKI pun diadakan, sebagaimana yang disaksikan langsung oleh Redaksi Jurnal.News di Balai Kartini tanggal 1 Juni 2016, kemarin. Simposium itu berjudul ‘Mengamankan Pancasila Dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lainnya’.

Tindak lanjut symposium tersebut, dinyatakan dalam sebuah aksi damai tadi siang, Jum’at (3/6) di bilangan Monas (baca; Monumen Nasional). Sebanyak kurang lebih 15 perwakilan ormas dan organisasi lainnya, dengan jumlah ribuan orang tampak memadati Monas.

Tuntutan para demonstran untuk menolak bangkitnya komunis di Indonesia, sangat tegas sekali dan bergemuruh bak ombak besar yang siap menghadang hadirnya PKI di tanah Ibu Pertiwi ini, sebagai sebuah ancaman yang sangat serius.

Sebelumnya,  Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein, kepada media juga menyampaikan bahwa telah adanya beberapa langkah konkrit yang dilakukan oleh kelompok yang berkonsentrasi dengan faham terlarang tersebut (komunis). Diantara langkah tersebut, sebagaimana yang dibeberkan olehnya, bahwa telah adanya markas PKI yang beralamat di Kramat Raya, Jakarta.

Sehingga, dalam menyatakan penolakan yang tegas, para demonstran yang melakukan aksi tadi siang tersebut, menyampaikan beberapa tuntutan langsung kepada pihak Menkopolhukam, Panglima TNI, Mendiknas, dan beberapa pihak terkait.

Dalam pertemuan perwakilan tersebut, juga dihadiri oleh 15 perwakilan Ormas dan beberapa tokoh penting (Purn) TNI, seperti; Letjend (Purn) Kiki Sanakri, Mayjend (Purn) Kivlan Zein, Mayjend (Purn) Budi Sujana. Juga dihadiri oleh para ulama, diantaranya; Habib Rizieq serta tokoh agama lainnya dan tokoh ormas yang berasal dari FKPPI, PPM, FPI, GBN, FUI dan banyak lagi.

Panglima Besar PETA (Pembela Tanah Air) Mayor (Purn) Muh. Saleh KR Sila, turut berperan aktif dalam aksi dan ikut sebagai perwakilan dari ormas – ormas tersebut. Muh Sila, adalah tokoh yang saat ini sangat getol menentang hal – hal yang tidak berpihak kepada rakyat, terutama tidak terealisasinya Pasal 33 (Ayat 1-3) dalam Undang – Undang Dasar tahun 1945, yang mana pada intinya semua kekayaan alam itu adalah untuk rakyat, bukan dinominasi oleh pihak asing yang hanya ingin meraup keuntungan tanpa memperhatikan nasib bangsa ini secara serius.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Panglima Besar PETA kepada media ini, bahwa perwakilan Ormas tersebut menegaskan, bahwa Pemerintah Republik Indonesia tidak boleh meminta maaf kepada PKI. Lalu, bahan ajar Pendidikan Pancasila harus kembali digalakkan disekolah – sekolah dan sejarah pemberontakan PKI harus juga diberikan pelajaran kepada anak didik, agar mereka tahu betapa kejamnya masa itu PKI melakukan pemberontakan.

Uniknya, para perwakilan demonstran juga meminta kembali diputarnya Film G 30 S/PKI, sebagaimana yang disiarkan dahulu setiap Hari Kebangkitan Pancasila di TVRI.

Dilain sisi, Muh Saleh, selaku Panglima Besar PETA, juga menyampaikan visi lahirnya PETA di Indonesia kembali. Ia menyebutkan, “PETA bukanlah kelompok garis keras seperti ISIS. Misi PETA adalah negara harus mengelola kekayaan alam bangsanya sendiri, tanpa dominasi bangsa asing dan aseng,” ungkapnya.

Ribuan demonstran memadati MONAS;  Gemuruh Rakyat, Tolak Kebangkitan PKI di Monas.
Ribuan demonstran memadati MONAS.

Soal PKI, Muh. Saleh juga dengan tegas meneriakkan, “Dengan membangkitkan PKI, berarti itu memicu perang saudara. Sementara pihak asing dengan lahapnya, menyantap dan merampok kekayaan alam Indonesia. Tetap semangat saudara – saudara ku rakyat Indonesia, terkhusus kepada kader PETA diseluruh penjuru negeri Ibu Pertiwi ini”.

Aksi yang dimulai usai Shalat Jum’at di Istiqlal Jakarta itu, berlangsung hingga pukul 17.00 Wib. Para demonstran melakukan longmarch dan aksi damai yang teratur dan tidak menuai kisruh. (Adhy J/Red)

Muh Saleh, Panglima Besar PETA, menunjukkan foto para Jenderal korban keganasan PKI dan sosok Jenderal Sudirman yang berjuang untuk bangsa ini.
Muh Saleh, Panglima Besar PETA, menunjukkan foto para Jenderal korban keganasan PKI dan sosok Jenderal Sudirman yang berjuang untuk bangsa ini.
Dibaca 1.348 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *