Kakek Beristri 7 Cabuli Balita

JN, Tanah Datar – Seorang kakek berumur 60 tahun bernama Bos (nama samaran) yang berprofesi sebagai tukang jahit, nekat mencabuli balita sebut saja Mawar (4), ditangkap Polsek Pariangan di Kenagarian Simabur, Kec. Pariangan, Kab. Tanah Datar pada Jum’at (18/3).

Perbuatan keji itu terjadi pada Kamis (17/3), saat kakek yang sudah memiliki 7 istri dan memiliki beberapa cucu tersebut, melihat ibu Mawar pergi ke pasar dan bapak Mawar juga tidak ada di rumah. Bos tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan dalih numpang nonton TV, tersangka masuk ke rumah korban yang saat itu sendirian. Korban yang sudah mengenal tersangka tidak merasa curiga akan kehadirannya. Sadar tidak ada seorangpun yang melihat, tersangka langsung menggerayangi tubuh korban, korban terkejut dan berusaha melawan, namun tenaga tersangka jauh lebih kuat.

Setelah itu, korban langsung melaporkan kejadian itu ke tetangganya. Kemudian tetangga korban menyampaikannya ke ibu korban. Korban yang terus meringis kesakitan, membuat ibu korban panik. Akhirnya ibu korban membuat laporan ke Polsek Pariangan dengan No. LP/47/K/III/2016/SPK.

Kapolsek Pariangan yang menerima laporan langsung berkoordinasi dengan Kasat Reskrim Polres Tanah. Saat ditemui oleh tim Jurnal.News di kantornya, Kasat Reskrim Polres Tanah Datar AKP Wahyudi menyampaikan, bahwa pihaknya meminta kasus tersebut ditangani di Polres karena korbannya anak-anak dan harus didampingi oleh unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

Saat ditanya polisi, tersangka tidak mengakui perbuatannya bahkan tersangka bersumpah, namun polisi tidak percaya dengan pengakuannya.

“Awal pemeriksaan tersangka tidak mengaku, bahkan dia bersumpah tidak melakukannya. Karena kami sudah mempunyai 2 alat bukti yang cukup, maka polisi terus mendesak tersangka hingga mengaku,” ujar Wahyudi.

Wahyudi menambahkan, setelah dilakukan pemeriksaan tersangka langsung diamankan untuk mendalami kemungkinan ada korban lain. “Karena kita sudah mendapatkan 2 alat bukti yang cukup, saya langsung keluarkan Sprintkap (Surat Perintah Penangkapan) No. SP.KAP/14/III/2016/RES, untuk selanjutnya dilakukan penahanan guna pendalaman lebih lanjut,” tambah Wahyudi.

Ditemui di ruang pemeriksaan, tersangka tampak santai bahkan melemparkan senyum. Ketika ditanya mengenai motif tersangka melakukan perbuatan itu, dengan santai tersangka menjawab khilaf.

“Saya kilaf dan saya menyesal melakukan perbuatan itu. Sekarang saya ingin menghabiskan masa tua saya dengan bertobat dan berserah diri pada Yang Kuasa. Tolong sampaikan ke keluarga saya untuk membesuk saya dengan membawakan sarung, tasbih dan Al Qur’an supaya saya bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan,” ungkap Bos.

Di lain tempat, Edi Putra (35) anak sulung dari istri kedua Bos, menanggapi penangkapan ayahnya dengan umpatan. Edi merupakan anak yang di tinggal oleh tersangka semenjak usia 3 bulan dan mengaku tidak pernah sekalipun dinafkahi oleh tersangka.

“Biar saja dia mati kedinginan dalam penjara, saya tidak akan membesuknya, ini karma baginya yang telah menelantarkan saya semenjak usia 3 bulan dan tak sekalipun memberi nafkah. Saya baru mengenal dia sebagai bapak semenjak masuk SD. Setelah tahu bahwa dia adalah bapak saya, dia tidak pernah menafkahi saya, bahkan sampai sekarang, bapak macam apa itu? Kerjanya tukang kawin dan menelantarkan anaknya,” ungkap Edi dengan nada geram. (JurnalJoni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *