Ketum PEKAT IB: Hati – Hati Proxy War, Pendidikan Moral Pancasila Harus Diberlakukan Kembali

Jakarta, JN – Teknologi semakin canggih, maka banyak pula cara – cara buruk berteknologi tinggi yang dipakai dalam berbagai lini, untuk merusak bangsa ini, salah satunya dalam hal perang. Hari ini Republik Indonesia memang tidak berhadapan dengan senjata dan/ atau perang terbuka, lazimnya seperti perang dunia I dan II atau perang kemerdekaan. Tetapi, tanpa disadari, ternyata tengah berlangsung semacam perang yang lebih sadis dibandingkan dengan perang terbuka, yakni trend-nya disebut sebagai Proxy War.

Menyikapi hal itu, H.Markoni Koto,SH, Ketua Umum PEKAT (Pembela Kesatuan Tanah Air) Indonesia Bersatu (IB), sudah sangat geram kepada pihak – pihak yang ingin menghancurkan bangsa Indonesia ini.

Menurutnya, Bangsa Indonesia harus diselamatkan dan berjuang penuh menghadapi Proxy War. Sebab perang semacam  Proxy War  itu sungguh halus sekali, bukti tengah terjadinya Proxy War , adalah semacam pengrusakan dalam system ekonomi (regulasi), pendidikan, sosial budaya, termasuk hukum. Lihat saja pemberitaan – pemberitaan di media massa, yang terkadang selalu mengiris hati, sebab sangat banyak sekali yang bertentangan dengan hati nurasi dan Undang – Undang Dasar 1945.

Salah satunya soal pendidikan, Markoni Koto, menyebutkan, “Bahwa bangsa Indonesia harus kembali kepada jati dirinya. Pendidikan Moral Pancasila atau yang lebih dikenal dengan mata pelajaran PMP, harus dikembalikan ke kurikulum sekolah sebagaimana dahulunya yang diberikan kepada generasi bangsa ini. Pendidikan moral dan pancasila, adalah jati diri bangsa ini, kita waspada dengan Proxy War ini, karena sasarannya adalah merusak moral dan mental bangsa kita,” pungkasnya, kepada Jurnal.News, di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PEKAT Indonesia Bersatu, beberapa waktu yang lalu.

Ia menjelaskan, bahwa pihak – pihak asing sudah melancarkan aksinya ke berbagai lini, bukan hanya menguasai sentral – sentral ekonomi, lini hukum pun menjadi sasaran yang empuk dalam perang tersebut.

Begitu juga, pada bulan Maret 2016 kemarin, Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI, Agus Sutomo, S.E saat memberikan kuliah umum bertema ‘Melalui Komsus TNI Kita Jalin Silaturahmi antara TNI dengan Aparat Pemerintah, Komponen Masyarakat dan/atau Keluarga Besar TNI Dalam Rangka Mewaspadai Proxy War di Wilayah NKRI’ di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad kampus Jatinangor, Senin (7/03), mengingatkan dengan tegas soal bahaya Proxy war.

Ia menjelaskan, “Proxy war tidak melalui kekuatan militer, tetapi perang melalui berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik melalui politik, melalui ekonomi, sosial budaya, termasuk hukum”.

Agus juga melanjutkan, bahwa proxy war merupakan sebuah konfrontasi antar dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko pada kehancuran fatal.

Dalam proxy war, tidak bisa terlihat siapa lawan dan siapa kawan. “Dilakukan non state actor, tetapi dikendalikan pasti oleh sebuah negara,” imbuh Agus.

Maka, Markoni Koto, juga mewanti – wanti adanya beberapa pihak yang saat ini sedang digunakan oleh pihak asing untuk merusak bangsa ini.

“Kami sudah laporkan salah satu lembaga yang ditunggangi oleh pihak asing ke Mabes Polri, tetapi mentah kembali. Wajar saja, itukan ada intervensi Istana,” bebernya. (Rico AU/ Unpad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *