Metro – Siapa yang tidak kenal Dam Raman? Tempat yang dahulu terkenal dengan citra negatifnya karena sering terjadi tindak kriminal dan mesum, menjadi objek wisata andalan Kota Metro, menarik untuk diperbincangkan. Tomi Nurrohman, Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Metro Lampung meneliti dinamika tersebut, dengan menyelesaikan skripsi berjudul “Implementasi Digital Marketing Komunitas #Ayokedamraman Sebagai Strategi Pengembangan Objek Wisata Dam Raman Kota Metro,” atas bimbingan Dharma Setyawan, MA dan Nizarudin, MH.

Pria berkaca mata ini menuturkan, “Fokus penelitian saya menjawab dua pertanyaan penting, pertama: bagaimana implementasi digital marketing yang dilakukan komunitas #Ayokedamraman dalam mem-branding Dam Raman, dan kedua, bagaimana dampak digital marketing tersebut terhadap perkembangan Dam Raman,” tuturnya sehabis melaksanakan sidang skripsi, Senin (30/12) di Kampus 2 IAIN Metro.

Hasil olah data yang dilakukannya, ia menemukan tiga fase penting dalam perkembangan Dam Raman, “Tahapan pertama, citra atau brand Dam Raman semakin membaik di mata publik, ini sangat erat kaitannya dengan efek awal dari digital marketing. Setelah itu, citra tersebut berdampak pada semakin masifnya frekuensi dan kuantitas kunjungan wisata. Pada tahap selanjutnya, keramaian tersebut menumbuhkan market baru, aktivitas ekonomi masyarakat pun meningkat.”

Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari digital marketing yang dilakukan komunitas #Ayokedamraman “Ada 3 tahapan digital marketing #Ayokedamraman, tahapan tersebut adalah pemilihan platform, perencanaan konten, dan produksi konten. Platform yang dipilih komunitas ada 4, Instagram, Facebook Youtube dan Blog. Keempat platform itu punya karakterisitik masing-masing, dan segmentasi yang berbeda,” tuturnya.

Menurutnya, tahapan paling penting adalah produksi konten, karena konten harus mampu mengubah persepsi publik, pesan yang disampaikan bisa dicerna banyak orang. “Penggunaan taggar #Ayokedamraman ini salah satunya, ada pesan ajakan, dibikin taggar, indikator keberhasilnnya adalah masyarakat secara suka rela mengikutinya,” tambahnya.

“Jadi, sinergi komunitas dan penggunaan media digital, di era revolusi industry 4.0 memainkan peran penting dalam pengembangan wisata, orang tidak hanya ingin menikmati alam, tetapi juga eksis di media sosial, Komunitas #Ayokedamraman berhasil memainkan titik penting ini,” tutupnya. (*)