[Opini] Politik Gunting, Jalan Menuju Kekuasaan

Penulis: Agus Alimuddin

kita dipertemukan atas tujuan yang sama, melihat kesamaan kepentingan atas karut-marut lingkungan dan keadaan sekitar, menyatukan khitah kita dalam satu simbol (organisasi), sebelum jauh menyoal kekuasaan dan politik gunting sehhh obrolan seniornya senior yang punya kuasa di organisasi terlebih harus memahami organisasi secara umum.

Mendengar kata organisasi pasti pikiran kita tertuju pada sekumpulan orang dengan posisi duduk melingkar mendiskusikan sesuatu dengan situasi serius, tak jarang hingga larut malam. Ya, itulah organisasi mahasiswa, organisasi nirlaba atau non profit yang tidak mengutamakan perolehan profit atau keuntungan dari kegiatannya utamanya mengkaji isu sosial dan lingkungan. Berjuang atas nama rakyat, tapi cari profit untuk kepentingan individu. Ehee.

Ihwal kekuasan akan terus jadi topik sentral dalam dinamika organisasi, tanpa sadar kita telah menyampingkan tujuan bersama berhimpun, ikrar yang dilafalkan sebagai syarat masuk organisasi nyatanya hanya fase formalitas yang dilewati mendaku dirinya menjadi bagian dari organisasi. Seehhhh, sok heroic

Sudah pastilah visi misi organisasi sangat heroik, supaya ada nilai jual untuk melancarkan agitasi biar landing nih barang mencari penerus tongkat estafet kepentingan. Program kerja dipolitisasi atas nama rakyat dan perubahan, usut punya usut hanya dijadikan batu loncatan untuk mencapai kekuasaan saja, ada campur tangan senior juga tuh untuk setting kegiatan supaya masuk sesuai pesanan dan tujuan bersama individu.

Kata “Takbir” dan “Merdeka” tak lepas dan tak akan tergantikan lupa diteriakan oleh para aktivis setiap penyampaian sambutan dan orasinya. Suka meneriakan kata “Merdeka”, nyatanya belum merdeka sepenuhnya dalam menjalankan roda organisasi, liat tuh yang dikerjakan masih tunduk dan taklid sesuai arahan senior. Ku tuhanku

Apa hubungan organisasi, kekuasaan, dengan politik gunting? Ini diskusi yang cukup asik dalam dinamika berorganisasi. Kalau sudah masuk bab politik gunting, jargon seperti “berteman lebih dari saudara, kita sahabat, kita bersaudara, kita satu untuk Indonesia” itu hanya cover organisasi guna membangun gimik seakan organisasi mengutamakan kesatuan hati (mon maap akhir-akhir ini jadi bucin) dan persatuan menurut pandangan anak-anak non-organisasi.

Pasca diikrarkan dan sah menjadi anggota di organisasi, sebelum belajar lebih jauh perihal tujuan dan tanggung jawab organisasi, kita dipaksa untuk menjatuhkan pilihan masuk dalam barisan “gerbong kanan” atau “gerbong kiri” sangat prematur anggota baru sudah bicara ihwal yang akan dijadikan teladan. Tetapi, apa daya, upaya yang telah diikrarkan ternyata hanya bullshit. Barisan atau pintu menjadikan semuanya serba terbatas mulai dari hubungan kolega yang membuat hati-hati dalam berbicara dan bersikap.

Politik gunting berlaku ketika sudah menetapkan pilihan gerbong kanan atau kiri, politik gunting berperan mematahkan segala upaya yang dilakukan lawan kawan yang tidak sepaham dengan gerbong kekuasaan. (Sesuai situasi yang punya kuasa penuh pengambilan keputusan gerbong kanan atau kiri)

Tak segan-segan upaya untuk mecapai cita-cita organisasi tidak akan diberikan ruang gerak secuilpun jika tidak satu gerbong. Jangankan memperjuangan kepentingan gerbong, perjuangan pure untuk orang banyak saja dijegal dan dipukul bertubi-tubi.

Kejam kan? Ya, itulah politik gunting. Sejak dini di organisasi kita dipaksa terhadap pilihan “Hitam” atau “Putih” dan dilarang bermain dengan tipu muslihat, taktik diwarna “Abu-abu” kehabisan siasat anda bisa digunting habis-habisan semua sisi.

Jadi, organisasi itu untuk memperjuangkan kepentingan universal atau memperjuangan kepentingan kelompok ?