Penulis: Agus Alimuddin, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Indonesia

K

apitalisme sebagai paham yang memandang bahwa siapapun pemilik modal adalah penguasa perekonomian dan  orang yang tidak memiliki modal diwajibkan bekerja keras untuk menerima bayaran yang ditentukan pemilik modal. Lahirnya marxisme sebagai penentangan terhadap kapitalis yang melakukan eksploitasi pada kaum proletar, paham  ini menguasai segala perangai perekonomian dan mengeksploitasi pekerja dengan otoritas kekuasaan modalnya.

Pandangan sejarahwan Indonesia Ong Hok Ham, bahwa kapitalisme yang berkembang di Indonesia lahir dari dua jalur, pertama  kapitalisme Belanda lahir dari eksploitasi buruh, menerbitkan pajak kepada masyarakat berpenghasilan rendah, dan membangun monopoli dalam pasar. Kedua, kapitalisme China lahir atas pemberian hak istimewa kepada kaum borjuis untuk mengeksploitasi kaum buruh dengan menarik pajak perdagangan yang dilakukan kaum proletar untuk terus menumpuk modal kaum borjuis. Negara penganut sosialis juga tidak lepas dari invasi kapitalis, seperti Uni Soviet, eksploitasi dilakukan oleh negara. Begitu pula dengan negara kapitalis juga melakukan eksploitasi, yang dilakukan oleh antar individu dan koorporat.

Kapitalisme memandang ekonomi dengan liberal, diperangi oleh ekonomi sosialis dengan prinsip ke-egaliter-an hak kaum borjuis dan kaum proletar. Ekonomi sosialis lahir atas kezaliman dan kegagalan menciptakan kesejahteraan masyarakat karena menggunakan sistem ekonomi kapitalisme, ekonomi sosialis menawarkan sikap egaliter yang nyata, menurunkan kesenjangan harta di kalangan masyarakat, produksi adil, dan kebersamaan.

Ekonomi sosialis yang digagas Karl Marx tidak ada kontradiksi dalam pandangan Islam, orientasi dari gagasan ini memiliki harapan mulia, yakni, membebaskan kaum proletar dari praktek perbudakan dan kezaliman yang terus di patri. Islam memandang perbedaan kelas merupakan hal yang lazim dan melarang membangun pertentangan kelas, Islam mencoba mengintegrasikan perbedaan kelas dengan konsep tolong-menolong sebagai upaya untuk melahirkan kesejahteraan dan membangun peradaban yang damai. Karl Marx ditolak Islam karena pandangannya perihal agama, bahwa peran Tuhan dengan  materi itu terpisah, Segala kebutuhan manusia adalah materi, imateriel menyatu dengan materi, apapun yang imateriel akan menjadi materi.

Ali Syari’ati dalam jabr-e Tarikh mencoba menyelesaikan kontradiksi pandangan Islam terhadap marxisme dengan membagi Marx pada tiga periodik perjalanan hidupnya. Pertama, Marx sebagai penganut ateistik yang mencoba menebarkan materialisme dialektis melalui metode ceramah politiknya dalam menebarkan perspektifnya sebagai aksi reaksioner untuk melawan gereja dan seluruh agama tanpa pengecualian. Kedua, Marx dewasa yang digambarkan sebagai ilmuan sosial yang melakukan perlawanan terhadap eksploitasi oleh penguasa dengan meluruskan fungsi dan suprastruktur di berbagai negara dengan pemahaman determinisme historis, negara yang ideologinya dominan dan  institusi politiknya selalu berkaitan infrastruktur perekonomian. Ketiga, Marx tua yang menjelma politisi. Marx dan marxisme mencoba menjadi partai revolusioner dengan melahirkan prediksi-prediksi  yang mampu diterima nalar, tetapi bertentangan dengan metodologi paham sosialnya. Partai sebagai cita-cita Marx tua lambat laun mengalami institusional dan birokratis, sehingga mengalami distorsi pada partai, Ali Syari’ati memandang ini sebagai marxisme vulgar.

Pada tiga periodik ini, maka yang memiliki kesamaan dan dapat diterima oleh Islam adalah periodik kedua (Marx dewasa).  Paradigma yang terbentuk bahwa masyarakat diberikan keadilan dalam pemilikan alat produksi, dan pembentukan paradigma di masyarakat dengan dasar suprastruktur yang memiliki sifat politis-idieologis.

Perjalanan penyadaran ini cukup lama, Ali Syari’ati banyak dianggap memiliki hubungan cinta-benci dengan marxisme. Kesalahan yang terjadi adalah menganggap bahwa Karl Marx hanyalah materialis tulen, yang menganggap semuanya  didasarkan pada nilai materi, tidak pada nilai ideal-spiritual.[]