free webpage hit counter

Pemimpin Membawa Rebah (Catatan Pinto Janir)

ACAP benar kita terjebak kepada hal-hal yang tak perlu, yang hanya membuang-buang usia kepada jurang kepercumaan. Kita seakan-akan tergila-gila pada “kerumitan” yang kita ciptakan sendiri. Kita terjebak pada kedunguan-kedunguan yang masih kita puja-puja sebagai “kecerdasan”. Sehingga, peristiwa kecil menjadi besar, peristiwa besar dikecilkan.

Hutan adalah rumah bagi binatang-binatang ganas dan liar. Binatang liar, tak mungkin serumah dengan manusia. Kalaupun memungkinkan, tempatnya adalah kurungan. Sejinak-jinak binatang ganas, ia tetap binatang dengan segala nalurinya. Sulit dipercayai sepenuhnya.

Kita dan binatang liar, memiliki ruang yang berbeda. Ruang manusia rumah, ruang binatang kandang, di bumi yang sama. Ruang manusia ‘nyata’ ruang jin ‘tersembunyi’. Bukan ghaib. Karena, Tuhanlah yang Maha Ghaib.

Jin, hanya dianggap ‘ghaib’ mata bagi sebagian manusia, dan belum tentu ghaib mata bagi penglihatan binatang.

Bumi, tempat kita berbagi hidup. Penempatannya jelas. Bila manusia, binatang dan jin enggan ‘berbagi’ hidup di dunia maka yang terjadi adalah kegaduhan dan ketidaknyamanan.

Binatang liar menyerang rumah, yang terjadi adalah gaduh. Manusia menyerang hutan sebagai kandang binatang liar, yang terjadi adalah kepunahan dan kehancuran.

Jin masuk rumah yang tak ‘berpagar’ kalimah ilahiyah , yang terjadi adalah potensi “kesurupan”. Sebaliknya, manusia ‘masuk’ jin, maka potensi sesat membentang lebar.

Manusia, jin, binatang, tumbuh-tumbuhan, batu, karang air, tanah, udara, api, angin, dan lain sebagainya; adalah penghuni bumi di dunia.

Dalam Al-Qur’an, manusia secara umum merupakan khalifah Allah di muka bumi untuk merawat dan memberdayakan bumi beserta isinya.

Allah ciptakan manusia untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi. Mengatur tetumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, pdan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kegunaan hidup yang bermanfaat. Tugas utama manusia sebagai khalifah di bumi ini,yaitu beribadah kepada Allah.

Allah ciptakan manusia dengan segala fasilitas untuk hidup yang tentunya bukan hanya untuk dipergunakan begitu saja,melainkan juga untuk dijaga,dirawat,dilestarikan,dan dimanfaatkan keberadaannya.

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk ciptaan Allah lainnya.Karena Allah berikan manusia pikiran dan dapat memikir dengan akal.Karena itu Allah mempercayakan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.Tidak ada yang dapat manusia lakukan tanpa adanya campur tangan dari Allah SWT.

Allah tidak akan menyulitkan hambanya,telah ia berikan umat Islam pedoman berupa Al-qur’an.
Mengapa manusia cendrung menyulitkan diri sendiri? Karena, kita terkadang lupa pada otak, pada hati sehingga akal tak berfunsi, yang berfungsi adalah keinginan-keinginan yang menganga

Terkadang tak terkendali kemudian menjadi perangkap bagi kehidupan sendiri.
Sebagai khalifah di bumi, manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Pemimpin untuk diri sendiri, bukan pemimpin yang “barajo ka ampu kaki”, bukan barajo pada kepentingan diri sendiri saja. Jauh lebih penting bagi itu, adalah untuk kepentingan orang banyak. Karena, hidup yang paling bermanfaat itu adalah ketika kita berarti bagi lingkungan dan orang banyak.

Sebagai khalifah di bumi, manusia wajib saling sayang; bukan saling perang. Manusia wajib saling tolong, bukan saling sikut. Saling mengangkat, bukan saling menjatuhkan. Saling berkawan, bukan saling bermusuhan. Saling menganal, bukan saling tak tahu. Saling menunjukkan, bukan saling menyalahkan.

Dunia adalah warna warni kehidupan. Adalah kumpulan perbedaan-perbedaan. Allah ciptakan umat manusia beragam bukan untuk saling menjatuhkan,atau saling bermusuhan,melainkan untuk saling mengenal,supaya kita bisa belajar satu sama lainnya.

Karena itu perbedaan bukan untuk saling menyingkirkan atau menjatuhkan . Jangan jadikan perbedaan sebagai alat untuk perpecahan.

Hidup kita adalah hidup yang ‘membutuhkan’. Untuk hidup, kita butuh butuh orang lain. Hidup kita adalah hidup saling ketergantungan. Pada hakekatnya kita ada dan berasal dari satu keturunan, yaitu turunan Adam, bukan jin, bukan, iblis, bukan setan , bukan binatang. Tapi, turunan Adam.

Manusia adalah pemimpin di muka bumi. Bila bumi sekarat, maka itu tak lebih dari kealpaan manusia juga. Melelehnya es di kutub utara atau selatan, itu karena tangan jahil kita yang lupa menjaga harmonisasi kehidupan. Cabiknya atmosfir di atas langit, itu juga karena ulah kita.

Bumi kita makin uzur, namun dunia makin ‘subur’. Bumi makin gaek, namun dunia bisa membuat kita makin “jaek”. Untuk itulah, makin tua bumi, makin “menggida” dunia.

Acap benar kita terjebak kepada hal-hal yang tak perlu, yang hanya membuang-buang usia kepada jurang kepercumaan. Kita seakan-akan tergila-gila pada “kerumitan” yang kita ciptakan sendiri. Kita terjebak pada kedunguan-kedunguan yang masih kita puja-puja sebagai “kecerdasan”. Sehingga, peristiwa kecil menjadi besar, peristiwa besar dikecilkan.

Pada akhirnya, dunia menjelma menjadi “pentas hiburan”. Bukan lagi menjadi pentas tempat beribadah kepada Allah. Menjaga amanah Allah, bagian dari ibadah. Menjaga bumi, bagian dari kebaikan yang akan dibalasNya dengan pahala-pahala yang dijanjikan Tuhan pada kita.

Bila dunia menjelma menjadi pentas hiburan, hal-hal tak penting menjadi topik pemberitaan. Hal-hal kecil digila-gilai, sebagian jadi bahan tertawaan, sebagian jadi bahan “pikiran” yang tak perlu-perlu amat.

Saat itu, dunia benar-benar menjadi ruang industri di segala bidang. Semua dipergalaskan. Termasuk juga harga diri. Semua dilakukan terkejar-kejar, sehingga tak terkejarkan. Maka budaya “berlari-lari” dalam bingung menjadi tontonan sehari-hari. Mirip “kebingungan” manusai ketika dibangkitkan dari alam kubur di Padang Mahsyar.

Bila mereka mati di atas kebaikan, mereka mendapat husnul khatimah. Bila mati di atas keburukan, maka mereka mati di atas su’ul khatimah.

Beberapa hadist yang pernah saya baca meriwayatkan. .Pemakan riba dihimpun di padang mahsyar dalam keadaan sempoyongan seperti orang gila karena kesurupan setan. Wanita yang meratapi kematian dibangkitkan dengan memakai pakaian dari qathiran (pelankin/ter) dan baju dari jarab (baju yang kumal dan gatal). Suami yang tidak adil kepada isterinya akan dibangkitkan dalam keadaan badannya mati sebelah. Orang-orang yang sombong dan congkak akan dihimpunkan seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia.

Mereka diliputi kehinaan dari berbagai arah dan digiring ke penjara di neraka Jahannam yang disebut Bulas. Mereka dinaungi oleh api dan diberi minum dari perasan kotoran penghuni neraka yang bernama Thinatul Khabal. Orang yang biasa hidup kenyang adalah orang yang paling lapar di waktu itu. Para pengkhianat akan diberikan bendera pengkhianatan, dan akan dikatakan, “Inilah pengkhianatan fulan bin fulan.” Para syuhada dihimpun dalam keadaan berlumuran darah, namun beraroma minyak kasturi. Orang yang meninggal dalam keadaan ihram akan dibangkitkan dalam keadaan bertarbiyah. Lalu, mengapa kita lagi?

Mari kita optimalkan saja hidup ini untuk mendekatkan diri kepada perbuatan-perbuatan positif, dan menjauhkan diri pada perbuatan negatif.

Sebagai khalifah di muka bumi, kita harus tetap menjadi “pemimpin” yang tidak merusak sehingga binatang hidup dengan kebinatangannya, jin hidup di alamnya, dan tidak kita rusak kehidupan ini dengan hal ihwal yang merusak hidup. Sebelum kerusakan paling besar pasti tiba; yakni kiamat, mari kita perlambat laju kerusakan ini dengan pikiran dan hati serta akal yang ada.

Jangan sampai, sebagai kalifah, sebagai pemimpin;yang membawa rebah…

Selamat berdiri di muka bumi!

Dibaca 511 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *