Warga: Galian C di Solok Mengancam, Jika Banjir Bandang Datang Penduduk 1 Nagari Diperkirakan Tak Selamat

 Ilustrasi (Galodo yang pernah terjadi)
Ilustrasi (Galodo yang pernah terjadi)

JN, Kab. Solok –   Bencana banjir Bandang yang kerap disebut dengan Galodo oleh Masyarakat Minangkabau kerap menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Apalagi masyarakat yang tinggal di didaerah perbukitan dan pegunungan, serta memiliki aliran sungai yang cukup banyak dan berpotensi galodo.

Masyarakat Kabupaten Solok yang tinggal disekitar area perbukitan dan pegunungan sudah sering mengalami bencana ini. Mungkin yang tak pernah lepas dari ingatan ialah bencana Banjir Bandang pada era 80-an silam di Nagari Talang, Kecamatan Gunung Talang. Saat itu, ratusan jiwa jadi korban keganasan air Bah, serta harta benda dan lahan pertanian yang praktis tidak dapat digunakan dan digarap lagi oleh masyarakat.

Selain itu, nagari Saok Laweh dan Bukik Tandang di dua Kecamatan berbeda juga pernah merasakan hal yang sama, bedanya disini tidak ada korban jiwa seperti tragedi tahun 80an di Nagari Talang.

Menurut beberapa masyarakat, bencana ini terjadi akibat ekploitasi hutan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Terkait permasalahan ini, pemukiman Penduduk Kenagaraian Muaro Pingai, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok, bisa terancam disapu air bah yang cukup besar seperti yang terjadi di Nagari Talang tahun 80an silam itu.

Selain itu, masyarakat juga resah akan aktifitas tambang galian C yang dilakukan tepat diatas pemukiman mereka. Ketakutan mereka tentu bukan tanpa alasan. Aliran air yang berasal dari bukit Padang Bungo yang saat ini dijadikan area pertambangan, berada tepat ditengah Pemukiman padat penduduk Muaro Pingai. Hal ini jelas mengharuskan masyarakat untuk waspada setiap saat selama 24 jam. Hasilnya, kenyamanan dan ketentraman warga memang sangat terganggu akibat ancaman ini. Seperti yang disampaikan beberapa masyarakat Muaro pingai kepada Suara Media Group Kamis lalu di Nagari Muaro Pingai.

 

”Kami merasa tidak nyaman dan merasa was was akibat ancaman ini, jika aksi tambang terus dilakukan, tantu bukit itu akan runtuh. Karena saat ini kami lihat, aksi penggalian dilakukan dari pinggang hingga dasar bukit. Jelas jika bagian bawah bukit habis, puncak bukit itu akan longsor nantinya” ungkap beberapa masyarakat.

Iapun menambahkan, masyarakat ini juga takut seluruh warga mereka akan tersapu habis oleh air bah jika tiba – tiba bencana ini terjadi tengah malam.

Oleh karena itu, masyarakat meminta agar Pemerintah Kabupaten Solok segera mengambil tindakan, jangan sampai hal yang ditakutkan masyarakat ini benar – benar terjadi akibat aktifitas tambang yang hanya menguntungkan segelintir orang saja.

“Masyarakat diharap arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Mereka juga mengingatkan agar masayarakat memilih kepentingan masyarakat banyak yang notabene adalah masyarakat Kabupaten Solok sendiri, bukan malah mementingkan orang – orang berduit yang tidak seluruhnya adalah masyarakat Muaro Pingai,” pungkas beberapa masyarakat asli Muaro Pingai tersebut. (jurnalwandre)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *