Jurnal.news, Kota Metro – Mas Fran turun ke Lapangan Samber dan ngobrol santai bersama sejumlah pedagang kuliner dan permainan sekitar lapangan Samber.

Kondisi hujan deras dan banjir menggenangi areal tempat obrolan berlangsung di lapangan Samber, tepatnya sederetan kuliner depan gedung SD Negeri I Kota Metro, tetap berlangsung penuh dengan canda tawa. Jumat, 31 Januari 2020, sekitar pukul 20.32 WIB.

Disituasi itu, sejumlah pelaku pedagang kuliner dan permainan menyampaikan beberapa usulan untuk bagaimana memberdayakan pedagang dan pelaku permainan, termasuk juga memberdayakan para pemuda kreatif atau pelaku usaha komersil lainnya.

Kebanyakan para pedagang kuliner dan pelaku permainan, berharap ada ruang lagi di taman kota agar lebih hidup, dengan ketentuan yang diatur sesuai kebijakan dari pemerintah itu sendiri, salah satunya menjaga keindahan ruang terbuka hijau, dalam artian ada ruang atau tempat bagi pedagang kuliner sebagian.

“Kami pada dasarnya tidak alergi dengan pembangunan, tetapi kami meminta untuk ada ruang atau tempat kembali ditaman kota dengan ketentuan yang menjadi syarat oleh pemerintah, seperti tetap menjaga keindahan dan kebersihan ruang terbuka hijau,” demikian disampaikan Amung yang akrab disapa pak Eran pelaku permainan anak di Samber Park.

Disampaikan juga oleh Bagus (31), pelaku pedagang kuliner setempat. Dalam penyampaiannya, di Samber sudah 3 tahun tidak ada daya tarik yang benar – benar menghidupkan Kota Metro, yang konon katanya Metro ini Ring dari daerah Kabupaten yang ada di Lampung.

Tentunya harus ada magentik tersendiri khusus Metro, terlebih memberdayakan para pemuda yang kreatif dan pelaku usaha komersil lain yang bermodal rendah dan mandiri.

“Saya rasa ini harus jadi pemikiran Mas Fran dan jadikan satu kesatuan dalam membangun metro untuk lebih maju sampai dengan tingkat warga pelaku usaha kecil seperti kami,”katanya.

“Tentunya, cara Mas Fran yang terus meminta masukan dari warganya dan kepada kami pelaku pedagang dan pemainan serta pelaku usaha komersil yang saat ini ada dalam pertemuan, diharap benar – benar dilaksanakan. Dan secara pribadi dan para pedaganf yang datang ngobrol santai kali ini, siap bersatu hingga basis keluarga, mendukung penuh Mas Fran,”tegas Bagus, diamini para pelaku pedagang dan permainan yang ada.

Atas hal ini, Mas Fran menyampaikan, obrolan ini adalah tindak lanjut dari obrolan sebelumnya dengan sejumlah pelaku usaha kecil samber beberapa waktu lalu. Secara langsung datang ngobrol santai dan ngopi bersama, sembari bercerita dan melihat keadaan lapangan samber.

“Tentunya secara infrastruktur, sangat disayangkan dengan fasilitas yang ada. Bukan berarti tidak baik, namun tidak termanfaat secara baik dan tertata. Terlebih kala musim hujan, lokasi tempat para pedagang tergenang air hujan, padahal sudah ada atap bangunan yang begitu kokoh (berbaja). Kondisi ini tentu secara otomatis tidak ada nyamannya pengunjung atau pembeli,”katanya.

Kemudian, kata Mas Fran, hal – hal yang menyangkut masukan dari para pelaku usaha dan permainan tadi, termasuk para pemuda pelaku usaha komersil yang ada, bahwa dihidupkan kembali Kota Metro dengan suasana sebelumnya, seperti menggunakan kembali taman kota dan tempat – tempat atau ruang terbuka lainnya.

Ini akan jadi konsern yang lebih matang, semua bisa terlaksana dengan terkoneksi satu sama lainnya. Sebuah taman kota itu, akan hidup bila aktifitas didalamnya didukung dari semua sektor termasuk permainan dan kuliner, maka akan hidup.

Namun, masih kata Mas Fran, taman kota merupakan ruang terbuka hijau, perlu ada gagasan yang tepat agar tetap terjaga indah, rapi dan bersih. Semua bisa terkoneksi secara bersamaan. “Akan ada kajian matang dalam hal ini. Maka perlu adanya pembahasan lanjut, masukan – masukan serta komitmen bersama, maka akan berjalan dengan baik dan terlaksana,”ujarnya.

Yang pastinya, Mas Fran melanjutkan, Taman Kota itu merupakan ruang publik yang dapat digunakan oleh publik untuk melakukan segala
aktivitas di dalamnya, baik secara individu ataupun kelompok.

Ruang publik memiliki fungsi yaitu
sebagai tempat bertemu dan berinteraksi seperti taman, tempat berdagang para PKL dan tempat
lalu lintas, dan taman bermain. Ini salah satu satu bentuk dalam pengembangan
sentra pedagang kaki lima dan taman bermain sebagai ruang publik.

“Ini semua yang dimaksud dari para pelaku usaha tadi. Tentu perlu ada pembahasan yang matang agar telaksana dan semua terkoneksi dengan semua sektor dalam memajukan sebuah Kota yang Inovativ, Kolaboratif dan Progresif. Perlu ada komunikasi lanjut dengan para pelaku usaha ini, artinya tidak sebatas pertemuan sementara, tujuannya menjadi program bersama dengan memberdayakan masyarakat dimulai saat ini dan sekarang,”pungkasnya. (Adv/Agb/smbr/Lampungsai)