YOGYAKARTA – Muhammadiyah kini kehilangan sosok yang telah ikut merumuskan dan memberi pondasi nilai-nilai Islam terhadap rumusan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wasy-Syahadah yang telah ditetapkan di Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makassar.

“Saya dan kita semua tentu menjadi saksi bahwa Prof. Yunahar adalah sosok langka yang ilmu keislaman-nya mendalam dan meluas lebih-lebih dengan ilmu tafsirnya bersama Pak Din Syamsuddin dan jajaran pengurus PP Muhammadiyah ikut merumuskan dan memberi pondasi nilai-nilai Islam terhadap rumusan Negara Pancasila sebagai Darul ‘Ahdi Wasy-Syahadah,” tutur Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat melepas jenazah Prof Yunahar Ilyas di serambi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta pada Jum’at (3/1).

Dalam beberapa kesempatan yang lalu, Prof Yunahar dalam paparannya mengatakan, bentuk negara Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah merupakan semangat Muhammadiyah. Membaca sejarahnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri berdasarkan konsensus (kesepakatan) seluruh negara bangsa diwakili oleh tokoh-tokohnya.

“Kesepakatan itu disebut al ahdu, darul ahdi (negeri hasil konsensus kita bersama), oleh sebab itu kita wajib menepati janji kita, konsensus kita, ditambah wa syahadah, itu semangat Muhammadiyah,” kata Yunahar dalam Pengajian Ramadhan 1439 H di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Menurut Yunahar, Darul Ahdi wa Syahadah disahkan saat Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar ini kata Syahadah tersebut merujuk ayat wakadzalika ja’alnakum ummatan wasathan litakunu syuhada ‘alanasi wayakuuna alarasulu ‘alaikum syahida… Artinya: Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat tengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al Baqarah [2] : 143)

Yunahar menerangkan, syahadah di situ bermakna referensi, teladan, tempat umat Islam mengekspresikan, menjalankan ajaran Islam dan harus berlomba dengan pemeluk agama lain dalam membangun negeri ini.

“Muhammadiyah berkeinginan dalam konteks bernegara menjadi syuhada, menjadi rujukan, referensi,” tutur Guru Besar Ulumul Qur’an UMY tersebut.

Prof Yunahar dalam tausyiahnya kerap menegaskan bahwa tidak usah tanya kesetiaan Muhammadiyah dengan NKRI, Muhammadiyah sudah lahir jauh sebelum Indonesia berdiri serta ikut berjuang mendirikannya.

“Cara berbangsa dan bernegara yang baik, tidak banyak bicara tapi banyak bekerja, tidak mengklaim rahmatan lil alamin tapi buktikan saja,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, selain sebagai sosok yang ikut merumuskan dan memberi pondasi nilai-nilai Islam terhadap rumusan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wasy-Syahadah, Prof. Yunahar juga ulama ahli tafsir yang berperan merumuskan tafsir At-Tanwir yang menjadi pedoman tafsir Al-Qur’an di Muhammadiyah. (*)