Di mana yang retak? Saya tidak yakin ada yang retak. Bisa jadi tidak ada yang yakin. Termasuk Anda saat memeriksa ulang dari awal paragraf: di mana yang retak? Memang semenjak Rocky Gerung seakan membawa angin segar mengenai akal sehat, sehingganya orang-orang yang saya kenal mulai sadar untuk memegang kepalanya, masing-masing, dan tidak mendapati sesuatu yang retak. Alasannya sederhana saja: mereka merasa sedang dan telah berpikir.

Verba berpikir menunjukan bahwa adanya cara mengada dari otak, tentu gejala ini rumit dan pada titik tertentu dipenuhi komplikasi, yang akrab disebut halu (bentuk tidak formal dari halusinasi) oleh generasi milenial belakangan ini.

Konon, dengan sejarah yang amat panjang: jauh sebelum Rocky; jauh sebelum Rene Descartes menyatakan cogito ergo sum; jauh sebelum Socrates jadi musafir yang mengetuk ‘tempurung kepala’ penduduk Athena, orang-orang sudah berpikir. Term berpikir memang punya daya pikat tersendiri sejak manusia menggunakan akalnya. Dan di sana muara segala pelik bertempat, pikiran yang sakit hanya akan melahirkan interupsi-interupsi kecil dalam hidup dengan bahasa paling muslihat.

Kita bisa lihat Sengkuni.

Dalam kisah Wewayanganing Ngaurip (cerminan jiwa dan  karakter hidup manusia) atau dekat dengan sebutan Wayang, kita kenal lakon Sengkuni. Tokoh dengan nama Melarung Sengkuni itu lekat dengan karakter jahat. Lihai menyosok sebagai yang santun, relijius, juga ramah untuk sembunyikan wataknya yang pengecut, munafik serta ambisius.

Dengan ilham seperti itu, Sengkuni gencar memainkan muslihat. Walhasil kursi Kepatihan Astinapura ia duduki. Duryadana diangkat sebagai Putra Mahkota. Pada saat seperti itu kekuasaan dan muslihat berpaut. Sampai-sampai ia susun skenario kekalahan Pandawa melawan Kurawa, untuk mengambil alih Astinapura. Puncaknya tercatat dalam Epos Mahabharata: dalam upaya pembunuhan terhadap Pandawa serta Kunti Talibrata; dan dimulainya Bharatayudha.

Seperti sinetron Azab. Patih Sengkuni beserta para punggawa Kurawa kalah dalam Bharatayudha. Dharma yang yang pelik telah menunjukan keadilan. Dan kisah berakhir. Layar ditutup, tapi Sengkuni lain lahir.

Sengkuni sampai di sini adalah metafora, dan tidak berhenti pada sosok pembisik kebencian di telinga para Kurawa. Ia lebih dari sekadar itu. Ia menjelma apa saja: bisa jadi lawan jenis yang sedang dikagumi; bisa jadi pejabat negara yang memberi instruksi untuk tenaga honorer yang mau perpanjang masa kerja harus berendam di got; bisa jadi sosok relijius yang mendhermakan waktunya untuk ikut kampanye politik praktis; bisa jadi apapun. Sebab Sengkuni watak, bukan sosok yang berhenti.

Tentu saja Sengkuni dapat juga diterjemahkan jadi konseptor ulung paling berhasil –seaindainya keberhasilan memang diukur lewat kedudukan dan materi. Ia hendak menunjukkan bahwa ia berpikir. Rahim pikirannya liar. Sehingga lahirlah tindak yang semata-mata menguntungkan diri sendiri. Meski beda, sikap hidup seperti Sengkuni acap kali mengkambinghitamkan oportunis (sebuah nomina yang merujuk bahwa subjek selalu mencari kesempatan).

Kita tahu kesalahan berpikir dapat menjangkiti pikiran siapa saja. Paling tidak, mereka yang berpikir. Tapi makna tidak lahir atas kata-kata yang berdiri sendiri. Di sini, makna dibangun atas ‘kekuasaan’ dan ‘pikiran’ yang saling berkelindan. Walhasil watak Sengkuni memunculkan satu kemungkinan: tiran.

Pikiran yang lahir semata-mata atas dorongan tirani serupa harapa gila, tulis Nietzsche, sebab selalu menciptakan dunia menurut gambarannya sendiri dan tidak dapat sebaliknya.

Dan kita bertanya-tanya; di mana yang retak itu?

Dengan kata lain, wujud retak tidak teraba dalam rangka kepala. Ia jadi mungkin. Tapi dalam kerangka berpikir, retak bisa saja selalu terjadi. Alasannya keretakan memuat unsur-unsur bersifat retak, berlaku juga dalam pikiran. Terlebih dalam kultus berpikir yang tidak tertata.[]

Penulis: Afriyan Arya Saputra (https://endonesans.blogspot.com/2019/12/retak.html)